Kickydut's Blog

jam dinding maju mundur

Posted on: November 28, 2010

“Dorr..!”

 

“Uhh… Dasar usil!”

 

Shasa tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah Nia yang kaget bercampur kesal.

 

“Habis, pagi-pagi sudah bengong sambil menatap jam dinding,” Shasa berkata sambil masih tersenyum-senyum.

 

Nia menunjuk jam dinding yang terpasang di dinding luar ruang guru. “Itu loh, jam dindingnya rusak,” kata Nia.

 

“Ah, masa’ sih?” Shasa menatap jam dinding yang dimaksud. Jam itu menunjukkan pukul Tujuh kurang Limabelas menit. Kedua jarumnya bergerak teratur. “Kok kamu bisa bilang jam dindingnya rusak?” tanya Shasa setelah beberapa saat menatap jam dinding.

 

“Aku berangkat dari rumah jam Tujuh kurang Limabelas menit. Begitu aku sampai disekolah dan melihat jam dinding itu ternyata masih jam Tujuh kurang Limabelas menit.” Nia menjelaskan.

 

“Ah, masa’ sih?” Shasa berkomentar dengan nada sangsi.

 

“Uhh.. kamu ini! Ah, masa’ sih.. Ah, masa’ sih.. Ya sudah kalau kamu tidak percaya.” Sambil cemberut Nia membalikkan badan.

 

“Eh, eh, jangan ngambek dulu dong,” Shasa berkata sambil mencekal tangan Nia.

 

Pada saat itu, lewatlah pak Yono, guru olahraga di dekat mereka. Mau tak mau, Nia terpaksa menghentikan langkahnya.

 

“Assalamu’alaikum, Pak!” sapa Shasa. “Eh, sekarang jam berapa ya, Pak?” tanya Shasa sopan.

 

Sambil menjawab salam Shasa, pak Yono mengulurkan tangannya. Dengan cepat Shasa melihat waktu yang ditunjukkan jam tangan Pak Yono dan membandingkannya dengan waktu yang ditunjukkan jam dinding.

 

“Jam dinding itu tidak rusak ,” bisik Shasa setelah Pak Yono berlalu. “Aku sudah mencocokkannya dengan jam tangan pak Yono.”

 

“Siapa tahu jam tangan Pak Yono juga rusak,” kata Nia bersikukuh dengan pendapatnya.

 

“Yeee… maksa gitu..,” sekarang giliran Shasa yang berkomentar dengan nada dongkol. “Siapa tahu jam dinding di rumah kamu yang rusak.”

 

“Yeee… Masa’ semua jam dinding di rumahku rusak sih,” bantah Nia.

 

Berdua mereka berjalan bersisian menuju ruang kelas mereka di lantai tiga. Tak lama kemudian terdengar bel masuk berbunyi.

 

Shasa mencolek bahu Nia yang duduk di depannya. “Tuh kan, apa aku bilang, jam dinding di ruang guru tadi tidak rusak,” kata Shasa.

 

“Uhh.. kamu ini.. Di rumahku ada tiga buah jam dinding. Semuanya menunjukkan waktu yang sama. Kalau salah satunya rusak sementara dua jam dinding lainnya menunjukkan waktu yang sama, artinya semua jam dinding di rumahku rusak dong,” bantah Nia.

 

Shasa terdiam. Aneh juga ya. Masa’ ada jam dinding maju mundur begitu? Shasa jadi penasaran.

 

Esok harinya, Shasa sengaja memperhatikan jam dinding di rumahnya sebelum berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, buru-buru ia menuju ruang guru.

 

“Ah, sama kok,” gumam Shasa.

 

“Gimana?” sebuah suara terdengar dari arah belakang Shasa. “Jam dinding siapa yang rusak?”

 

“Jam dinding kamu,” kata Shasa.

 

“Yeee… maksa gitu..” Nia menirukan kata-kata Shasa.

 

“Loh.. jam di rumahku sama kok dengan jam di sekolah,” kata Shasa tak mau kalah. “Tadi sebelum aku berangkat, aku kan memperhatikan dengan seksama.”

 

Nia terdiam. Dahinya berkerut.

 

“Gini deh, nanti sepulang sekolah aku akan bertapa memecahkan misteri ini.” Kata Shasa.

 

Nia menonjok bahu Shasa. “Uhh.. anak usil seperti kamu mau bertapa? Baru duduk diam sebentar pasti sudah gak tahan.”

 

Shasa tertawa-tawa. “Loh.. bertapa ala Shasa itu tidak perlu duduk diam. Itu sih sudah kuno. Pakai bertapa gaya baru dong. Mendengarkan lagu sambil menikmati susu coklat dingin.. mantaaaappp…”

 

Nia ikut tertawa-tawa. “Dasaaarrrr…!”

 

Malamnya, Nia sedang asyik menonton televisi ketika mama memberitahunya Shasa menelepon.

 

“Ada apa, Sha?” tanya Nia.

 

“Sekarang kamu lihat deh jam dinding di rumah kamu!” suara Shasa terdengar bersemangat di telepon.

 

Nia menoleh ke arah jam dinding.

 

“Pasti sekarang jam dinding kamu menunjukkan pukul 7.15. iya kan?”

 

“Iya,” jawab Nia. “Memangnya kenapa?”

 

“Berarti aku sudah berhasil memecahkan misteri jam dinding yang maju mundur,” Shasa berkata dengan nada riang.

 

“Apanya yang dipecahkan?” tanya Nia bingung. “Kamu kan tadi hanya bertanya jam berapa sekarang.”

 

“Besok deh aku ceritakan selengkapnya. Sekarang aku mau kembali bertapa memecahkan misteri-misteri lainnya.”

 

“Dasaarrrr…” Nia berseru gemas kemudian menutup telepon. Ah, dia jadi tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu Shasa.

 

Keesokan harinya, Shasa menyodorkan selembar surat kabar.

 

“Apaan nih?” tanya Nia bingung.

 

“Kamu lihat deh di halaman yang memuat acara-acara televisi,” kata Shasa.

 

Nia membuka surat kabar yang disodorkan Shasa masih dengan perasaan bingung.

 

“Ingat gak semalam ketika aku menelepon kamu, kamu sedang menonton acara apa?”

 

Nia menyebutkan sebuah acara di salah satu stasiun televisi.

 

“Acara itu baru mulai kan?” tanya Shasa lagi.

 

Nia menganggukkan kepalanya. “Terus apa hubungannya dengan misteri jam dinding maju mundur yang katanya sudah berhasil kamu pecahkan?” tanya Nia.

 

“Aduuhh… kamu lihat dong di surat kabar itu. Acara yang kamu tonton semalam itu dimulai pada pukul berapa,” Shasa berkata dengan nada tidak sabar.

 

“Pukul Tujuh malam,” jawab Nia setelah memperhatikan susunan acara televisi.

 

“Ingat gak, jam dinding kamu menunjukkan pukul berapa ketika aku meneleponmu semalam?” tanya Shasa lagi.

 

“Pukul 7.15.” jawab Nia. Tak lama kemudian kedua matanya membesar. “Apa itu artinya… artinya..”

 

Shasa meneruskan perkataan Nia yang terputus. “.. Kalau kamu masih ragu-ragu, nanti pulang sekolah kamu cek lagi saja.” Shasa mengakhiri kata-katanya.

 

“Wah.. kamu memang hebat. Tidak sia-sia kemarin kamu bertapa,” puji Nia.

 

“Shasa gitu loh,” kata Shasa sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.

 

“Dasaaaaarrrr…!”

 

Eh, kalian sudah tidak bingung lagi dengan misteri jam dinding yang maju mundur itu kan?

 

Ibu Nia sengaja memajukan lima belas menit semua jam yang ada di rumah Nia. Tujuannya supaya Nia tidak terlambat tiba di sekolah. Itu sebabnya ketika Nia tiba di sekolah dan melihat jam dinding di luar ruang guru, ia menjadi bingung karena jam dinding itu menunjukkan waktu yang sama dengan saat dia berangkat ke sekolah. Padahal Nia tentu memerlukan waktu tempuh dari rumahnya hingga tiba di sekolah, bukan? Artinya tidak mungkin jam dinding di sekolah menunjukkan waktu yang sama dengan saat Nia berangkat ke sekolah.

 

Ketika Shasa menelepon Nia malam itu, jam dinding di rumah Nia menunjukkan pukul 7.15 menit. Padahal menurut jadwal acara televisi yang ada di surat kabar, acara itu seharusnya dimulai pukul 7.00.

 

Nah, kalau kamu mengalami kejadian seperti Nia, jangan terburu-buru menyimpulkan jam dinding di sekolahmu rusak ya! Hehehe

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tak ada
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori

%d blogger menyukai ini: